Translate

Selasa, 01 Mei 2012

Gizi Dalam Belut

Hmmmm bentuknya memang rada kurang menarik, bahkan sebagian orang merasa geli terlebih para wanita.
Licin, dengan bentuk badan memanjang seperti ular. Namun, siapa yang menyangka di
balik bentuknya yang menggelikan tersebut,
*kandungan gizi belut* ternyata cukup banyak.

Tidak banyak yang tahu bahwa belut sebenarnya adalah salah satu jenis
ikan. Ikan  yang ini memang berbeda dengan ikan-ikan kebanyakan. Belut tidak memiliki sirip
dan bentuk badannya tidak pipih seperti kebanyakan bentuk ikan.

Jika dikelompokkan berdasarkan suku, belut adalah bangsa ikan dari
suku /synbranchidae/. Belut hanya dapat ditemukan di daerah-daerah yang
memiliki iklim tropis .



Bentuk belut, bulat memanjang, persis seperti ular. Ukuran panjang belut  8
centimeter hingga 1 meter. Meskipun termasuk dalam salah satu jenis
ikan, belut tidak suka berenang. Belut lebih suka bergelut dengan lumpur. Maka dari itu, belut banyak ditemukan di sawah.

Di Indonesia, menangkap belut di sawah sepertinya sudah menjadi tradisi bagi sebagian
warganya. Biasanya para penangkap belut akan ?melancarkan aksinya? pada
malam  hari. Belut yang memiliki fungsi mata tidak begitu baik, akan lebih mudah ditangkap pada
malam hari.

Meskipun berbeda bentuk dan habitat dengan ikan, namun bila berbicara
tentang kandungan gizi dan citarasa, belut
memiliki ?kedudukan? yang tidak terlalu beda jauh. Hal yang menjijikan
dari belut hanya pada bentuk dan habitatnya, sedangkan kandungan gizi
belut dan rasa dagingnya patut untuk disandingkan dengan berbagai sumber
protein  lain.

*Kandungan Gizi Belut*

Belut mengandung protein yang cukup tinggi. Jumlah protein yang
terkandung dalam daging belut kurang lebih sama dengan jumlah protein
yang terdapat pada daging sapi, dan lebih tinggi daripada kandungan protein pada sebutir telur.

Protein yang terkandung dalam belut juga mudah dicerna, sehingga belut
bisa dikonsumsi dan dijadikan sumber protein untuk segala usia. Balita hingga usia yang sudah lanjut.

Belut mengandung asam esensial dan asam nonesensial. Kandungan berbagai
asam amino esensial dalam belut, seperti aspartat, lisin, isoleusin,
leusin, dan glutamat. Kandungan lisin dan isoleusin dalam belut
menyumbangkan nutrisi yang dipercaya baik bagi tumbuh kembang anak. Pada orang
dewasa, kandungan dua asam ini juga baik untuk
menjaga kandungan nitrogen agar tetap seimbang.

Jika Anda pernah mengonsumsi belut, Anda pasti akan tahu rasa gurih
alami dari daging belut. Rasa gurih tersebut dihasilkan dari glutamat
yang terkandung dalam belut. Sehingga, ketika Anda memasak belut, Anda
tidak perlu menambahkan penyedap makanan, dan masakan Anda pun akan
menjadi lebih sehat . Bebas dari Monosodium glutamat buatan.

Belut juga mengandung arigin yang merupakan bagian dari asam amino
nonesensial. Arigin pada belut dapat membantu merangsang hormon
pertumbuhan pada manusia. Jenis asam nonesensial ini juga dapat membantu
meningkatkan kekuatan otot, mengurangi timbunan lemak, serta dapat
menghambat tumbuhnya sel-sel kanker pada payudara.

Kandungan gizi belut lainnya adalah fosfor, zat besi, vitamin A dan B.
Fosfor dalam belut jumlahnya lebih banyak daripada fosfor yang ada pada
telur. Fosfor berguna untuk kesehatan tulang. Mengonsumsi banyak makanan
yang mengandung fosfor akan mencegah Anda terkena osteoporosis sejak dini.

Zat besi pada belut pun tidak kalah penting. Jika fosfor bermanfaat
untuk tulang, maka zat besi berfungsi untuk melancarkan aliran darah yang mengandung
oksigen ke seluruh tubuh.

Oksigen dalam darah tersebut membantu tubuh untuk mengubah karbohidrat, protein, dan lemak
menjadi tenaga. Jika tubuh kekurangan zat besi, yang terjadi adalah
tubuh akan mengalami gejala 5 L. Lemah, letih, lunglai, lelah, dan
lesu. Hal itu disebabkan karena oksigen dalam darah tidak dapat membantu
mengubah karbohidrat , protein, dan lemak menjadi tenaga secara optimal.

Kandungan gizi belut yang terakhir adalah vitamin A dan B. Vitamin A baik
untuk penglihatan dan sistem reproduksi Anda, sedangkan vitamin B
penting untuk pertumbuhan otak, pembentukan hormon, sel darah merah,
serta protein dalam tubuh.

SUMBER ENERGI :

Nilai Energi Belut : 303 kkal/100gr,
Bandingkan:
Nilai Energi Telur : 162 kkal/100gr,
Nilai Energi Daging Sapi : 207 kkal/100gr

Kesimpulan : BELUT sangat baik dijadikan sumber energi

SUMBER PROTEIN :

Nilai protein pada belut (18,4 g/100 g daging),
Bandingkan:
Protein daging sapi (18,8 g/100g),
Protein telur (12,8 g/100 g).

Protein Belut juga kaya akan beberapa asam amino yang memiliki kualitas cukup baik, yaitu :
  1. Leusin, lisin:
  2. Leusin dan isoleusin merupakan asam amino esensial yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan anak-anak dan menjaga kesetimbangan nitrogen pada orang dewasa, selain itu juga berguna untuk perombakan dan pembentukan protein otot.
  3. Asam aspartat:
  4. asam aspartat untuk membantu kerja neurotransmitter.
  5. Asam glutamate:
  6. sangat diperlukan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Tingginya kadar asam glutamat pada belut menjadikan belut berasa enak dan gurih. Dalam proses pemasakannya tidak perlu ditambah penyedap rasa berupa monosodium glutamat (MSG).
  7. Kandungan arginin (asam amino nonesensial)
  8. pada belut dapat memengaruhi produksi hormon pertumbuhan manusia yang populer dengan sebutan human growth hormone (HGH). HGH ini yang akan membantu meningkatkan kesehatan otot dan mengurangi penumpukan lemak di tubuh. Hasil uji laboratorium juga menunjukkan bahwa arginin berfungsi menghambat pertumbuhan sel-sel kanker payudara.
Kesimpulan :
Seperti jenis ikan lainnya, nilai cerna protein pada belut juga sangat tinggi, sehingga sangat cocok untuk sumber protein bagi semua kelompok usia, dari bayi hingga usia lanjut.

KAYA VITAMIN & MINERAL
  1. Belut kaya akan zat besi (20 mg/100 g), jauh lebih tinggi dibandingkan zat besi pada telur dan daging (2,8 mg/100g). Konsumsi 125 gram belut setiap hari telah memenuhi kebutuhan tubuh akan zat besi, yaitu 25 mg per hari. Zat besi sangat diperlukan tubuh untuk mencegah anemia gizi, yang ditandai oleh tubuh yang mudah lemah, letih, dan lesu.
    Zat besi berguna untuk membentuk hemoglobin darah yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Oksigen tersebut selanjutnya berfungsi untuk mengoksidasi karbohidrat, lemak, dan protein menjadi energi untuk aktivitas tubuh. Itulah yang menyebabkan gejala utama kekurangan zat besi adalah lemah, letih, dan tidak bertenaga. Zat besi juga berguna untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh, sehingga tidak mudah terserang berbagai penyakit infeksi.
  2. Belut juga kaya akan fosfor. Nilainya dua kali lipat fosfor pada telur. Tanpa kehadiran fosfor, kalsium tidak dapat membentuk massa tulang. Karena itu, konsumsi fosfor harus berimbang dengan kalsium, agar tulang menjadi kokoh dan kuat, sehingga terbebas dari osteoporosis. Di dalam tubuh, fosfor yang berbentuk kristal kalsium fosfat umumnya (sekitar 80 persen) berada dalam tulang dan gigi.
    Fungsi utama fosfor adalah sebagai pemberi energi dan kekuatan pada metabolisme lemak dan karbohidrat, sebagai penunjang kesehatan gigi dan gusi, untuk sintesis DNA serta penyerapan dan pemakaian kalsium. Kebutuhan fosfor bagi ibu hamil tentu lebih banyak dibandingkan saat-saat tidak mengandung, terutama untuk pembentukan tulang janinnya.
    Jika asupan fosfor kurang, janin akan mengambilnya dari sang ibu. Ini salah satu penyebab penyakit tulang keropos pada ibu. Kebutuhan fosfor akan terpenuhi apabila konsumsi protein juga diperhatikan.
  3. Kandungan vitamin A yang mencapai 1.600 SI per 100 g membuat belut sangat baik untuk digunakan sebagai pemelihara sel epitel. Selain itu, vitamin A juga sangat diperlukan tubuh untuk pertumbuhan, penglihatan, dan proses reproduksi.
  4. Belut juga kaya akan vitamin B. Vitamin B umumnya berperan sebagai kofaktor dari suatu enzim, sehingga enzim dapat berfungsi normal dalam proses metabolisme tubuh. Vitamin B juga sangat penting bagi otak untuk berfungsi normal, membantu membentuk protein, hormon, dan sel darah merah.
  5. Seperti pada jenis ikan lain, belut juga mengandung asam lemak omega 3. Kadar omega 3 pada lemak ikan, termasuk belut, sangat bervariasi tetapi berkisar antara 4,48 persen sampai dengan 11,80 persen. Kandungan omega 3 pada ikan, tergantung kepada jenis, umur, ketersediaan makanan, dan daerah penangkapan.
    Dari hasil penelitian, diketahui bahwa bagian tubuh ikan memiliki lemak dengan komposisi omega 3 yang berbeda-beda. Kadar omega 3 pada bagian kepala sekitar 12 persen, dada 28 persen, daging permukaan 31,2 persen, dan isi rongga perut 42,1 persen (berdasarkan berat kering).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar